Uncategorized

MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN

Diceritakan pada buku terbitan Fischer, Germany (1967) berjudul Progress in Primatology, G.R. Stephenson melakukan eksperimen terhadap kera. Dia menempatkan lima ekor kera dalam satu kandang.

Pada atap kandang itu digantungkan banyak pisang. Ada sebuah tangga yang menghubungkan atap dengan lantai kandang. Namun setiap kali ada kera yang memanjat tangga dan mencoba mengambil pisang, dia semprot seluruh kandang dengan air dingin.

Terus menerus seperti itu hingga semua kera kapok. Kelima kera menyerah dan mengerti untuk tidak mendekati tangga dan mengabaikan sebanyak apapun pisang di atap.

Kemudian salah satu kera diambil keluar kandang dan diganti dengan kera yang baru. Kera yang baru ini mencoba mendekati tangga. Spontan keempat kera lainnya mengeroyok dan memukuli si kera baru.

Si kera baru dihajar agar tidak mendekati tangga. Keempat kera lama melakukan itu karena tidak ingin kedinginan jika nanti seluruh kandang disemprot air. Lalu satu ekor kera lama dikeluarkan dari kandang, diganti kera baru.

Kera baru ini juga mencoba mendekati tangga dan diserang oleh keempat kera lainnya termasuk oleh kera baru sebelumnya. Stephenson mengganti kera satu persatu hingga tidak ada kera lama yang tersisa.

Ternyata para kera mengikuti aturan perilaku yang sama. Kera yang mendekati tangga akan diserang oleh kera lainnya meskipun mereka tidak mengerti mengapa.

Ada atau tidak adanya semprotan air sudah tidak berpengaruh lagi terhadap perilaku kera. Mereka konsisten menyerang kera manapun yang mendekati tangga. Inilah gambaran umum proses bagaimana suatu budaya diciptakan.

Budaya adalah perilaku yang membiasa. Perilaku dibentuk oleh apa yang diberikan penghargaan dan atau apa yang diberikan hukuman. Budaya seringkali tidak lagi terpengaruh oleh alasan awal suatu perilaku.

Apakah budaya bagi perusahaan itu penting? Tentu saja. Felix Meschke, seorang asisten profesor keuangan University of Kansas School of Business pada tahun 2015 melakukan penelitian dengan Minjie Haung dan Pingshu Li tentang pengaruh budaya perusahaan terhadap kinerja perusahaan.

Hasilnya menunjukan bahwa budaya perusahaan berpengaruh terhadap kepuasan karyawan. Kepuasan karyawan inilah yang memberikan nilai tambah bagi kinerja perusahaan. Lebih spesifik yang diukur adalah kinerja keuangan.

Lalu bagaimana budaya di lingkungan kerja kita masing-masing? Tentu ada budaya yang baik dan sebaliknya. Diperlukan kesadaran untuk melihat secara jernih. Budaya yang dimaksud tentunya bukan sekedar jargon-jargon namun nilai yang dijunjung tinggi melalui kebiasaan para insan di dalamnya. Budaya yang dimaksud adalah perilaku masif yang umum dijumpai di perusahaan.

Selama kita masih berdaulat menentukan pilihan langkah hidup kita, semoga insan RNI memilih perilaku untuk membangun budaya yang baik. Salah satunya adalah budaya menjaga hubungan baik dengan sesama rekan kerja, bawahan, atasan serta dengan para stakeholder.

Diharapkan dengan adanya kesadaran akal sehat dan keberanian secara kolektif untuk berperilaku sesuai tata kelola perusahaan yang baik, dapat tercipta budaya perusahaaan yang semakin baik agar diperoleh kepuasan kerja dan kinerja keuangan yang lebih baik. Rapatkan barisan. Fokus pada tujuan. Satu jiwa raih juara. (RSD-RW1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *