TRANFORMASI PELAYANAN KEPADA PETANI BERBASIS IT (PART 1)

Posted on Posted in Uncategorized

Industri gula PT RNI (Persero) wilayah timur yang masih beroperasi saat ini sudah ada sejak zaman kolonial. Sebut saja PG Candi Baru yang berangka tahun 1832, PG Rejo Agung Baru berangka tahun 1894 dan PG Krebet Baru berangka tahun 1906. Industri gula tersebut pada jamannya dibangun untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa. Sementara masyarakat lokal pada masa itu menurut Raffles dalam buku ”History of Java”, terbiasa mengkonsumsi gula merah dari nira kelapa atau nira tebu yang dikentalkan lalu dikeringkan. Penduduk lokal di daerah Jawa Tengah khususnya, hingga saat ini masih menyebutnya dengan istilah “gula jawa”.

Menilik pola bisnis perusahaan multinasional, kita mengenal istilah red ocean strategy dan blue ocean strategy. Pola bisnis barat cenderung memilih blue ocean, yaitu medan perang dimana persaingan tidak ketat sehingga perusahaan bisa menjadi pemimpin pasar tanpa khawatir terhadap kompetitor. Jika pun muncul kompetitor, maka akan diupayakan sedemikian rupa untuk mencegah kompetitor masuk pasar. Jika pasar sudah penuh persaingan dan mereka tidak bisa menjadi market leader, maka mereka akan meninggalkan bisnis tersebut. Pasar yang penuh persaingan (red ocean) tersebut dihindari seperti yang secara ekstrim disampaikan oleh Jack Welch (General Electric), “Kalau kita tidak bisa menjadi nomor satu atau nomor dua di pasar, kita akan keluar”.

Berbeda dengan pola bisnis barat, pebisnis China dengan ketekunannya cenderung masuk red ocean. Mereka bisa dibilang “mengekor” bisnis yang telah dibangun oleh pengusaha barat dengan sistem ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) yang tentu membuat gerah mereka yang sudah susah payah menciptakan produk, membuat pasar dan mendidik konsumen. Salah satu kekuatan China untuk masuk red ocean adalah karena mereka memiliki SDM yang murah dan captive market lokal yang besar, yaitu 1,38 miliar penduduk (18% penduduk dunia). Tidak hanya tenaga kasar, namun juga tenaga terdidik dan tenaga ahli yang murah. Mereka menciptakan produk/jasa dengan margin yang kecil namun jumlahnya banyak sehingga secara kolektif laba yang diperoleh tinggi. Berbeda dengan pola barat yang memasang margin besar ketika merasa tidak memiliki kompetitor dan keluar dari pasar ketika terlalu banyak pesaing.

Kembali pada industri gula, menimbang usianya tentunya bukan lagi blue ocean. Industri gula adalah red ocean, sehingga jika masih ada industri gula yang bisa bertahan dan selalu laba, maka perlu diapresiasi semangat juangnya. Eksistensi perusahaan gula selama ratusan tahun tersebut, menghadapi segala upaya pelemahannya membuktikan bahwa industri tersebut sangat kuat. Salah satunya PT PG Rajawali I, unit PG Krebet Baru yang mampu bertahan menjaga kemitraan dengan petani tebu di wilayah Malang Raya. (rsd).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *