Uncategorized

HASIL TAKSASI GULA NASIONAL

SURABAYA – Pada 12 Maret 2020, perwakilan perusahaan gula nasional berkumpul di Surabaya untuk melaksanakan rapat pembahasan Taksasi Produksi 2020. Taksasi produksi merupakan kegiatan untuk menduga potensi produksi tebu yang akan diperoleh pada saat tebang nanti. Rapat pembahasan hasil taksasi tersebut mejadi acuan perhitungan neraca gula tahun 2020 oleh Pemerintah.

Pertemuan tersebut juga membahas berbagai insight industri gula. Salah satunya adalah tentang Peraturan Menteri Pertanian terkait kemitraan tebu yang sedang dalam proses penyusunan. Dalam rancangan Peraturan Menteri tersebut perjanjian kemitraan antara pekebun dengan PG akan difasilitasi dan dikoordinir oleh dinas terkait. Kemitraan tersebut mencangkup: a) penyedian saprodi, benih, pupuk, pestisida, alsintan dan tenaga kerja; b) pengelolaan dan pengembangan budidaya tebu; c) tebang, muat dan angkut tebu ke PG; d) pembiayaan usaha tani tebu; dan e) pembelian tebu oleh PG.

Hasil taksasi awal giling luas areal tebu di Indonesia yaitu 444,365 hektar, jumlah tebu 31.481.842 ton, produktivitas tebu 70,85 ton per hektar, rendemen 8,07%, jumlah gula dihasilkan 2.539.942 ton dan produktivitas gula kristal putih 5,72 ton per hektar. Sedangkan taksasi awal giling di Pulau Jawa yaitu luas areal 243,004 hektar, jumlah tebu 17.225.500 ton, 70,89 ton per hektar, rendemen 8,12%, jumlah gula dihasilkan 1.399.233 dan produktivitas gula kristal putih 5,76 ton per hektar.

Sementara itu, sisa stok gula nasional disebut sebanyak 150.000 ton. Stok tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan satu bulan dengan rata-rata harga eceran mencapai Rp16.000 per kg. Kondisi tersebut tentunya belum mendukung pencapaian target swasembada gula nasional tahun 2024 dengan target luasan 500.000 hektar, produktivitas tebu 75 ton per hektar, rendemen 8% dan jumlah konsumsi gula mencapai 3 juta ton.

Dilihat dari aspek iklim, iklim tahun 2020 diprediksi bertolak belakang dengan kondisi iklim 2019. Awal musim kemarau diprediksi pada bulan Juni dengan puncak musim kemarau pada bulan Juli – Agustus 2020. Kemudian pada bulan September, diprediksi ada pengaruh kemarau basah (la nina) lemah yang meningkatkan curah hujan. Mundurnya awal musim hujan tahun 2019 juga berdampak terhadap produksi masa giling 2020. Dikarenakan menyebabkan mundurnya masa tanam dan gangguan pertumbuhan tanaman ratoon (RC). Semoga insight hasil taksasi tersebut dapat menambah wawasan untuk menyusun strategi pencapaian swasembada gula nasional. (rsd).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *